WakilGubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum via konferensi video meresmikan kegiatan Petani Milenial Jamur Kayu dari Hotel Panorama, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (28/9/2021). Pak Uu sapaan Wagub Jabar mengatakan, jamur kayu merupakan komoditas yang potensial pada masa depan. Sementaraitu, PT Santomo Resources Indonesia merupakan perusahaan yang fokus pada energi terbarukan seperti energi biomassa (PKS, Wood Pellet), pembangkit listrik terbarukan, dan bisnis EV SellMesin Perikanan & Peternakan From Nusa Tenggara Barat with cheapest price from many companies. Buy Mesin Perikanan & Peternakan From Nusa Tenggara Barat directly from supplier, distributor, dealer, agent, dan importir Pusat perdagangan mesin perikanan & peternakan terbesar di Indonesia. Share. Filter Category. Province. MESIN PERIKANAN Dengan berkah sumber daya alam yang melimpah di Indonesia, kami berharap Barata dan Treehouz dapat bersinergi memanfaatkan kompetensi masing-masing dalam menjalankan proyek pabrik wood, baggase pellet, atau sawdust baru maupun revitalisasi di Indonesia," ucap Tan. Areview on pulp manufacture from non wood plant materials. International Journal of Chemical Engineering and Applications, 4(3), 144-148. Nancy, C., Agustina, D. S., & Syarifa, L. F. (2013). Potensi kayu karet hasil peremajaan karet rakyat untuk memasok industri kayu karet : studi kasus di Provinsi Sumatera Selatan. ArangBriket Jawa Tengah Jadi Primadona di Timur Tengah Ekspor briket Jawa Tengah menguasai pasar Timur Tengah. Negara-negara di Eropa, Nigeria dan Brazil juga menjadi pelanggan briket dari Jateng. Per bulan, tak kurang dari 6 ribu ton briket diekspor ke negara-negara itu. Briket Jateng itu memiliki pangsa pasar sangat bagus di dunia. Mereka DAFTARNAMA PERUSAHAAN No Nama Lembaga/Institusi Alamat TEKSTIL 1 Bitratex Semarang Central Jaya ,PT Semarang Jawa Tengah 2 Texmaco Jaya Karawang, PT Desa Kiara Payung, Kecamatan Klari, Karawang, 41300 PO. Box 75, Jabar Ph. : 267 432 300 Fax. : 267 432 307, 267 431 644 3 Djoni Texindo, PT Tubagus angke 10, Jakarta 11460 Manufacture and supply ErickThohir Dampingi Jokowi Resmikan Pabrik Biodiesel di Kalimantan Selatan. di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat sebagai sumber bahan baku industri Biomass. Untuk rencana hilirisasi Perhutani akan membuat produk akhir berupa Wood Chips dan Wood Pellet, yang rencana investasi pabrik pembangunannya di mulai 2022. SUBANG Industri wood pellet atau pelet kayu sebagai bahan energi baru dan terbarukan (EBT) di Subang, Jawa Barat perlu terus dikembangkan karena sejalan dengan program nawacita Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), khususnya butir ke 3, yakni Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam Panenpada semester pertama di tahun kedua ini mencapai minimal 2400 ton batang. Harga pasaran pelet kayu dari tanaman kaliandra merah di Jepang dan Korea Selatan sebesar $129 - $135 /ton sedangkan untuk dalam negeri sebesar $80. Segmentasi pasar dari PT Bumi Energi adalah pabrik-pabrik produksi luar negeri dengan skala besar. VmJN6Fp. ManufacturersWood PelletsAirex Énergie2500, rue Bernard-LefebvreLaval QuĂ©bec Canada H7C 0A5Biomasse du Lac Taureau membre de Albioma1801, chemin ManawanSaint-Michel-des-Saints QuĂ©bec Canada J0K 3B0Energex3891, rue PrĂ©sident-KennedyLac-MĂ©gantic QuĂ©bec Canada G6B 3B8GDS Énergie Route 295DĂ©gelis QuĂ©bec Canada G5T 1R1Granulco chemin du Moulin, 250SacrĂ©-Coeur QuĂ©bec Canada G0T 1Y0Granules LG750, chemin de la MoraineSaint-FĂ©licien QuĂ©bec Canada G8K 0A1Lauzon Bois Ă©nergĂ©tique recyclĂ©2099, cĂŽte des CascadesPapineauville QuĂ©bec Canada J0V 1R0Valfei / Granules de la Mauricie avenue Georges-BornaisShawinigan-Sud QuĂ©bec Canada G9N 6T5Members DirectoryPlease wait while flipbook is loading. For more related info, FAQs and issues please refer to DearFlip WordPress Flipbook Plugin Help documentation. Subang, – Pelet kayu wood pellet menjadi salah satu alternatif sumber energi yang ramah lingkungan. Untuk itu, pemerintah diminta untuk memberikan dukungan terhadap industri pelet kayu yang ada di Subang, Jawa Barat. Dengan dukungan pemerintah, industri ini diyakini bisa berkembang dan semakin banyak pengusaha kecil dan menengah UKIM terjun di bidang ini. “Sebaiknya pemerintah mendorong industri ini lebih maju daripada terus melakukan subsidi untuk migas yang mencapai Rp 65 triliun. Jika dirunut dari menanam, memproduksi, hingga memasarkan, banyak masyarakat yang terlibat dalam industri ini. Tenaga kerjanya pun tanpa butuh keahlian tinggi,” kata Dwi Sariningtyas, pemilik PT Gemilang yang memproduksi pellet kayu di Subang, Jawa Barat, Senin 20/1/2020. Sari, demikian dia akrab disapa, mengatakan, membangun pabrik pelet kayu tidak memerlukan modal besar dan bisa dipelajari dengan cepat. Pada 2014, dia hanya perlu belajar antara 1-2 bulan untuk bisa membangun pabrik pelet kayu. “Dengan modal yang terbatas dan melakukan trial and error dengan mesin skala kecil dalam dua tahun usaha saya berjalan dengan produksi mencapai 500 ton,” katanya. Sari mengatakan, dengan karyawan sebanyak 12 orang, kapasitas produksi pabrik pelet kayunya saat ini stabil antara 300 ton hingga 400 ton per bulan. Seluruh produk pelet kayunya pun habis diserap pasar dengan harga Rp “Sehingga, total dalam sebulan omzet mencapai Rp 750 juta hingga Rp 1 miliar,” ujarnya. Sari berharap ke depan pemerintah peduli terhadap industri pelet kayu mengingat penggunaan pelet kayu untuk industri lebih hemat. “Penggunaan pelet kayu untuk penggilingan beras, misalnya bisa menghemat hingga 70% dibandingkan menggunakan gas. Jika digunakan pada industri yang menggunakan kayu bakar penghematannya mencapai 20-30%,” katanya. Selain efisien, sambung Sari, penggunaan pelet kayu sebagai bahan bakar tidak menghasilkan asap berlebihan atau lebih ramah lingkungan. Usaha di bidang ini juga tidak memerlukan space yang terlalu besar dibandingkan kayu bakar belum lagi jika kehujanan. Menanggapi harapan Sari itu, Donny Yusgiantoro dari Kadin Bidang Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah mengatakan, yang diperlukan saat ini di Subang dan wilayah lain sejenis adalah konsep industri terpadu. Menurut dia, pabrik pelet kayu harus didukung pabrik-pabrik pendukung lainnya. Selain pabrik kayu, pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah seperti jerami, dan sebagainya, bisa memasok bahan baku untuk pabrik pelet kayu. “Pengaturan sektor terpadunya masih kurang di Subang ini. Kelemahan kita memang di sektor kebijakan. Padahal pabrik pelet kayu ini kan bagus sekali, tidak mencemari lingkungan. Renewable energy,” ujarnya didampingi Miranti Serad, Wakil Ketua Komisi Tetap Pengelolaan Lingkungan Bersih dan Pemanfaatan Limbah Kadin Energi Baru Terbarukan. Donny mengatakan bahwa pihaknya akan segera mengkaji feasibility industri pelet kayu ke depan. Kadin akan bekerja sama dengan produsen atau pun pengguna pelet. “Semua aspek harus diperhitungkan tidak cuma yang tampak. Faktor ramah lingkungan juga harus diperhitungkan. Ongkos polusinya itu juga harus dihitung. Kajian yang kita lakukan nanti harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan,” ujarnya. Kebijakan pemerintah, menurut Donni, harus mengadvokasi masyarakat industri ini. Kadin akan menjembatani sektor riil seperti ini. “Kita akan melakukan berbagai kajian, tapi yang urgent adalah kajian awal dulu. Misalnya penggunaan kayu dibanding pelet kayu mana yang lebih efisien. Kita hitung juga biaya-biaya yang tidak ada rupiahnya seperti kenyamanan, kebersihannya, dan sebagainya ,” ujarnya. Sementara itu, sebagai BUMN yang bergerak di bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi EBTKE, PT Energy Management Indonesia Persero atau EMI akan menjadi mitra strategis pemerintah untuk mensinergikan dan mengintegrasikan para pemangku kepentingan di sektor energi dan lindung lingkungan, mulai dari produsen, konsumen dan masyarakat luas dalam menghadapi perubahan iklim. “Masyarakat kita banyak yang sudah sadar akan pentingnya solusi energi altenatif dari sumber setempat yang ramah lingkungan sekaligus membuka lapangan kerja khususnya di wilayah pedesaan. Kita menghimpun para pemangku kepentingan terkait untuk mendiskusikan permasalahan mulai dari permasalahan energi, penggundulan hutan, pengolahan limbah, dan lainnya. Misalnya, kelompok diskusi Pojok Iklim. Kita sudah saling kenal. Sehingga suatu permasalahan lingkungan seperti kasus penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar bisa lekas mendapat usulan solusi karena dibahas bersama,” kata Komisaris Utama PT EMI, Sarwono Kusumaatmadja. Menurut Sarwono, industri pelet kayu sangat baik bagi masyarakat. Karena bahan-bahannya ada di sekitar mereka, proses engineering-nya pun relatif sederhana demikian teknologinya. Tidak menyusahkan dan masyarakat bisa dilatih untuk mengembangkan dan memanfaatkannya. “Dibandingkan gas misalnya yang perlu infrastruktur dan sistem distribusi yang canggih dan sangat mahal, menyebabkan energi harus dijual ke penduduk dengan harga tinggi sehingga perlu ada subsidi. Kalau bahan bakar berbasis biomassa ini pelet kayu, dari sononya sudah murah dan dimana-mana bahan bakunya ada. Kami akan duduk di EMI untuk membahas lebih lanjut bagaimana pelet kayu ini jadi memasyarakat,” ucapnya. Saksikan live streaming program-program BTV di sini Subang, - Industri pelet kayu wood pellet sebagai bahan energi baru dan terbarukan EBT di Subang, Jawa Barat, perlu terus dikembangkan. Bahan bakar pelet kayu sejalan dengan program Nawacita Presiden Joko Widodo Jokowi, khususnya butir ke 3, yakni membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Demikian dikemukakan Haruki Agustina, Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah Bahan Berbahaya Beracun pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK di sela-sela meninjau pabrik pelet kayu PT Gemilang MS di Desa PadaAsih, Subang, Jawa Barat, Jumat 31/1/2020. Selain ke pabrik pelet kayu, Haruki Agustina beserta rombongan KLHK, juga jajaran Kementerian ESDM Ditjen EBTKE Direktorat Bioenergi, serta perwakilan PT Energy Management Indonesia EMI meninjau pabrik kayu yang memanfaatkan pelet kayu sebagai bahan bakar. Menurut Haruki, usaha kecil dan menengah UKM pelet kayu di Subang ini cocok untuk membangun ekonomi perdesaan karena memiliki sumber bahan baku di sekitar desa sekaligus menyerap tenaga kerja lokal. “Dalam konteks lingkungan hidup pun, pelet kayu juga bagus karena berasal dari bahan baku kayu dengan sistem pembakaran yang bersih atau tidak menimbulkan polusi. Pelet kayu juga masuk dalam kategori energi baru terbarukan EBT, suatu energi alternatif untuk mengganti energi berbahan bakar fosil yang secara bertahap harus mulai kita tinggalkan,” jelasnya. Memandang lebih luas, Haruki menilai, industri pelet kayu tidak hanya cocok untuk skala kecil di desa. Pelet kayu bisa dikembangkan dalam skala nasional dengan manfaat ekonomi lebih massif dan signifikan. Ia menjelaskan setiap kota memiliki taman-taman kota dengan berbagai tanaman atau pohon di dalamnya. Nah, taman-taman kota itu memiliki potensi limbah organik seperti dahan atau ranting yang selama ini hanya dibuang ke tempat pembuangan akhir TPA sampah. Dengan membangun pabrik pelet kayu, limbah organik yang berasal dari tanaman tersebut tidak perlu dibuang ke TPA tapi dimanfaatkan, disalurkan ke pabrik pelet kayu. “Di DKI Jakarta misalnya, taman-taman kota yang ada bisa kita maintanance pohonnya di mana ada ranting-ranting dan dahan yang biasanya ditebang dan diibuang ke TPA, itu kan sayang. Padahal itu organic compound, ada nilai ekonominya jika dimanfaatkan untuk bahan baku pelet kayu,” urai Haruki. Selain memanfaatkan limbah organik taman kota, Pemda juga dapat membangun hutan industri penghasil kayu sebagai bahan baku pelet kayu tersebut. “Biofuel ini oke, lebih gampang sumber bakunya tersedia di sekitar atau renewable resources. Bangun hutan industri, maintenance rantingnya dan tinggal investasi mesin,” ujarnya. Sementara dari sisi masyarakat, rumah tangga atau warga juga harus diedukasi untuk tidak membuang ranting. Mereka harus diedukasi untuk melakukan pemilahan sampah organik khususnya yang berasal dari pohon. “Kalau di rumah tangga pemilahannya jalan, masyakarat paham setelah diedukasi, terus pemerintahnya memfasilitasi jalan sudah,” sambungnya. Haruki menambahkan, sebenarnya industri skala kecil berbasis desa untuk membangun ekonomi kerakyatan sudah banyak infrastrukturnya di pemerintah. Artinya pemerintah sudah menyediakan tools-tools nya, sekarang tinggal bagaimana membuat sebuah perencanaan untuk menyatukan antar kepentingan. “Kalau bicara industri kecil itu ada di Kementerian Perindustrian, bicara energi itu di Kementerian ESDM, bicara lingkungan ada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terkait desa ada Kementerian Desa itu semua dintegrasikan untuk membangun pola pembangunan industri skala kecil berbasis desa dengan menggunakan anggaran yang ada. Tinggal kita mau atau enggak. Ini sebenarnya mendorong Nawacitanya Pak Jokowi untuk membangun masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera,” katanya. Haruki menyadari bahwa kewenangan KLHK terbatas. “Kami hanya membantu wilayah yang mempunyai masalah masyarakatnya membakar limbah untuk bahan bakar. Itu kan tidak boleh, maka kami mencari alternatifnya. Nah pellet kayu ini merupakan salah satu alternatif untuk daerah ini,” katanya. Oleh karena itu, ia kembali menekankan bahwa kolaborasi, koordinasi lintas sektoral itu yang sangat penting untuk membuat program ini menjadi massif. Program ESDM Dalam kesempatan yang sama, Agil Gozal, Analis Program Energi Baru Terbarukan EBT Kementerian ESDM Ditjen EBTKE Direktorat Bioenergi, mengatakan bahwa awal tahun ini pihaknya memang lagi mempersiapkan program pemanfaatan biomassa. “Pemanfaatan biomassa ini kami cofiring untuk PLTU, tapi memang masih dalam pembahasan. Nah ini, pelet kayu dimanfaatkan untuk thermal untuk masak contohnya di pabrik tahu. Terus ada ide juga dari PT EMI untuk membuat thermo couple untuk listrik selain untuk memasak. Ini menarik dan bisa diajukan ke direktorat bioenergy untuk dibahas,” katanya. Ia menambahkan Ditjen EBTKE Direktorat Bioenergy ESDM berperan sebagai fasilitator bagi pihak atau pemda yang mempunyai program dalam rangka menaikkan bauran energi. “Seperti pelet kayu ini masih skala kecil untuk UKM. Untuk skala yang lebih luas kita tidak bisa sembarangan harus disertifikasi, dikaji dan diujicoba,” katanya. Untuk pelet kayu ini, sambung Agil, Kementerian ESDM dan Perindustrian memang memiliki kewenangan paling dekat di samping Kementerian LHK dan Kementerian Desa. Karena manfaatnya untuk bauran energi. Di satu sisi pengguna bioenergi, biomassa pelet kayu ini adalah industri kecil, UKM, yang domainnya di Kementerian Perindustrian. Di sisi lain, Kementerian LHK terkait program penurunan emisi karbon, karena pelet kayu ini ramah lingkungan. Kemudian karena usaha ini ada di sebuah desa dan Kementerian Desa punya program dana desa bisa membantu dalam bidang pendanaan. “Sekarang kan era integrasi, kolaborasi multisektor. Bagusnya memang begitu, tapi karena melibatkan banyak pihak maka diskusinya cukup panjang,” pungkasnya. Rintisan Sementara itu, Direktur Operasi dan Pengembangan PT Energi Management Indonesia Persero, Antonius Aris Sudjatmiko menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung program pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan EBT, khususnya biomassa wood pellet ini. Dia mengaku, sebagai BUMN yang bergerak di bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, PT EMI Persero sedang melakukan beberapa kajian dan program rintisan untuk mendorong pemanfaatan wood pellet ini untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. "Kami sedang melakukan beberapa kajian dan rintisan agar wood pellet ini dapat menjadi sumber energi yang andal untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Mulai dari teknologi burner/tungku untuk menciptakan pasar sampai kepada menyusun sistem manajemen energi untuk mengatur keseimbangan suplai dan demand termasuk bagaimana solusi pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat yang kurang mampu,” kata Aris. Lebih lanjut Aris berharap agar program pengembangan dan pemanfaatan EBT ini benar-benar menjadi perhatian serius semua pihak sehingga dapat menyelesaikan permasalahan energi terutama di sektor rumah tangga dan IKM. Sumber Suara Pembaruan Saksikan live streaming program-program BTV di sini